Cerita Sex: Ikut realty show,and selanjutnya

itil benefits itil v3
Cerita Sex - Cerita Dewasa - Cerita Hot - Aku ikut dalam acara realty show di salah satu tv swasta. Presenternya, ana, sangat seksi. aku napsu sekali melihatnya. Selama show, bodinya yang bahenol terbungkus dengan tank top ketat dan jeans yang juga ketat. Toketnya yang besar tampak sangat menonjol. Pantatnya yang besar juga tampak sangat menggairahkan.Karena tank topnya sepinggang, puser dan pinggangnya sering terlihat karena dia sangat aktif bergerak. Acara tersebut adalah acara mencari pasangan. Pada satu kesempatan, aku berkata pada ana : "Aku sih milih ana aja deh boleh gak. Dari pertama kita ketemu, aku sudah tertarik dengan kamu An". "Kan Ana host nya, gak termasuk dalam prempuan yang mencari pasangannya. Mas boleh milih Ayu, Sintia atau yang lainnya". "Enggak ah, aku milih ana aja yach". "Kalo gitu kita omongin diluar acara aja ya mas, macem2 aja si mas teh", katanya sambil tersenyum. Ketika sampai waktunya harus menentukan aku tidak memilih siapapun. ana hanya tersenyum ketika aku menyatakan alasanku tidak memilih, "Kan aku maunya milih ana tapi gak bisa". Selesai acara yang diselenggarakan disalah satu resort diluar kota, aku nungguin ana.

Lama juga aku nunggunya, akhirnya dia keluar juga dari resort, masih memakai pakaian seksinya. "ana pulang ama siapa?", tanyaku. "Sendiri mas, mas mo nganterin ana pulang", dia minta to the point. "Bole banget, tapi pulangnya ke tempatku ya". "Mo ngapain di tempat mas". "Aku mo ngobrol ama ana, belum puas ngobrolnya sih". "Belum puas ngobrolnya atawa mo ngepuasin yang lainnya mas?", katanya nantangin. "Kalo aku minta dipuasin yang lainnya, ana mo muasin aku gak", langsung kujawab, to the point juga. "Bisa diatur", kata ana sambil masuk ke mobilku. Dalam perjalanan pulang, kami ngobrol ngalor ngidul, ana sangat open. Dia crita petualangan sexnya dengan banyak lelaki, terutama dengan yang bukan abg. Dia bilang sudah sebulan ini dia gak kencan ama lelaki. "Wah, kalo gitu kamu dah napsu banget dong An. Aku kan sudah gak termasuk abg, jadi boleh dong ikut dalam petualangan ana". "Bisa diatur kok mas". Selama perjalanan, aku mengelus pahanya, dari luar jeans ketatnya tentunya. "Ih, si mas, dah napsu sama ana ya". "Kalo napsu sih dari tadi An". "Kalo dah napsu artinya dah ngaceng ya mas", katanya sambil mengelus selangkanganku. "Ih, kayanya besar ya mas, keras lagi", dia mulai meremas selangkanganku. "ana mo liat duluan, buka aja ritsluitingnya". Dia segera menurunkan ritsluiting celanaku dan tangannya masuk ke dalam cd ku merogoh kon tolku. "Ih besar banget mas, panjang lagi. ana belum pernah ngerasain yang sebesar dan sepanjang ini", katanya sambil mengeluarkan kon tolku.

Segera dikocok2nya batangnya. Lalu ana menunduk dan mengemut kepala kon tolku. "An, diisep sampe aku ngecret dong". "Tempatnya sempit mas, ana kocok aja yach. no nok ana jadi basah mas, dah kepingin kemasukan kon tol gede mas", dia mulai mengocok kon tolku keatas dan kebawah. Aku jadi melenguh kenikmatan. "Masih jauh mas, tempatnya". "Enggak kok An, sebentar lagi sampe", kataku sambil mempercepat lajunya kendaraanku. Tak lama kemudian, sampailah kami dirumah milik kantorku. Aku belum ngecret dan ana menyudahi sepongannya. "Mas, besar banget rumahnya kaya kon tol mas aja besar, punya mas ya". "Bukan An, punya kantor. Ini mes kantor, buat tamu yang perlu nginep. Sekarang lagi kosong, jadi kita pake aja yach". Kami menuju ke bagian belakang rumah, ada kolam renang disana. Tempatnya teduh karena banyak pepohonan dan tertutup tembok tinggi sehingga gak mungkin ada yang bisa ngintip.
Aku duduk didipan dipinggir kolam renang, ana duduk disebelahku. Aku memeluknya. Kucium pipinya sambil jemariku membelai-belai bagian belakang telinganya. Matanya terpejam seolah menikmati usapan tanganku. Kupandangi wajahnya yang manis, hidungnya yang mancung lalu bibirnya. Tak tahan berlama-lama menunggu akhirnya aku mencium bibirnya. Kulumat mesra lalu kujulurkan lidahku. Mulutnya terbuka perlahan menerima lidahku. Lama aku mempermainkan lidahku di dalam mulutnya. Lidahnya begitu agresif menanggapi permainan lidahku, sampai-sampai nafas kami berdua menjadi tidak beraturan. Sesaat ciuman kami terhenti untuk menarik nafas, lalu kami mulai berpagutan lagi dan lagi. Kubelai pangkal lengannya yang terbuka. Kubuka telapak tanganku sehingga jempolku bisa menggapai permukaan dadanya sambil membelai pangkal lengannya. Bibirku kini turun menyapu lehernya seiring telapak tanganku meraup toketnya. ana menggeliat bagai cacing kepanasan terkena terik mentari. Suara rintihan berulang kali keluar dari mulutnya di saat lidahku menjulur menikmati lehernya yang jenjang. "Maas...." ana memegang tanganku yang sedang meremas toketnya dengan penuh napsu. Bukan untuk mencegah, karena dia membiarkan tanganku mengelus dan meremas toketnya yang montok. "An, aku ingin melihat toketmu", ujarku sambil mengusap bagian puncak toketnya yang menonjol.
Dia menatapku. ana akhirnya membuka tank top ketatnya di depanku. Aku terkagum-kagum menatap toketnya yang tertutup oleh BH berwarna hitam. Toketnya begitu membusung, menantang, dan naik turun seiring dengan desah nafasnya yang memburu. Sambil berbaring ana membuka pengait BH-nya di punggungnya. Punggungnya melengkung indah. Aku menahan tangan ana ketika dia mencoba untuk menurunkan tali BH-nya dari atas pundaknya. Justru dengan keadaan BH-nya yang longgar karena tanpa pengait seperti itu membuat toketnya semakin menantang. "Toketmu bagus, An", aku mencoba mengungkapkan keindahan pada tubuhnya. Perlahan aku menarik turun cup BH-nya. Mata ana terpejam. Perhatianku terfokus ke pentilnya yang berwarna kecoklatan. Lingkarannya tidak begitu besar sedang ujungnya begitu runcing dan kaku. Kuusap pentilnya lalu kupilin dengan jemariku. ana mendesah. Mulutku turun ingin mencicipi toketnya. "Egkhh.." rintih ana ketika mulutku melumat pentilnya. Kupermainkan dengan lidah dan gigiku. Sekali-sekali kugigit pentilnya lalu kuisap kuat-kuat sehingga membuat ana menarik rambutku. Puas menikmati toket yang sebelah kiri, aku mencium toket ana yang satunya yang belum sempat kunikmati. Rintihan-rintihan dan desahan kenikmatan keluar dari mulut ana. Sambil menciumi toket ana, tanganku turun membelai perutnya yang datar, berhenti sejenak di pusarnya lalu perlahan turun mengitari lembah di bawah perut ana. Kubelai pahanya sebelah dalam terlebih dahulu sebelum aku memutuskan untuk meraba no noknya yang masih tertutup oleh celana jeans ketat yang dikenakan ana. Aku secara tiba-tiba menghentikan kegiatanku lalu berdiri di samping dipan.

ana tertegun sejenak memandangku, lalu matanya terpejam kembali ketika aku membuka kancing jeans warna hitamnya. Aku masih berdiri sambil memandang tubuh ana yang tergolek di dipan, menantang. Kulitnya yang tidak terlalu putih membuat mataku tak jemu memandang. Perutnya begitu datar. Celana jeans ketat yang dipakainya terlihat terlalu longgar pada pinggangnya namun pada bagian pinggulnya begitu pas untuk menunjukkan lekukan pantatnya yang sempurna. Puas memandang tubuh ana, aku lalu membaringkan tubuhku di sampingnya. Kurapikan untaian rambut yang menutupi beberapa bagian pada permukaan wajah dan leher ana. Kubelai lagi toketnya. Kucium bibirnya sambil kumasukkan air liurku ke dalam mulutnya. ana menelannya. Tanganku turun ke bagian perut lalu menerobos masuk melalui pinggang celana jeans ana yang memang agak longgar. Jemariku bergerak lincah mengusap dan membelai selangkangan ana yang masih tertutup CDnya. jari tengah tanganku membelai permukaan CDnya tepat diatas no noknya, basah. Aku terus mempermainkan jari tengahku untuk menggelitik bagian yang paling pribadi tubuh ana. Pinggul ana perlahan bergerak ke kiri, ke kanan dan sesekali bergoyang untuk menetralisir ketegangan yang dialaminya. aku menyuruh ana untuk membuka celana jeans yang dipakainya. ana menurunkan reitsliting celana jeansnya. CD hitam yang dikenakannya begitu mini sehingga jembut keriting yang tumbuh di sekitar no noknya hampir sebagian keluar dari pinggir CDnya. Aku membantu menarik turun celana jeans ana. Pinggulnya agak anaikkan ketika aku agak kesusahan menarik celana jeans ana. Akupun melepas pakeanku. Posisi kami kini sama-sama tinggal mengenakan CD. Tubuhnya semakin seksi saja. Pahanya begitu mulus. Memang harus kuakui tubuhnya begitu menarik dan memikat, penuh dengan sex appeal. Kami berpelukan. Dia menyentuh kon tolku dari luar CD ku. ana melorotkan CD ku. Langsung kon tolku yang panjangnya kira-kira 18 cm serta agak gemuk dibelai dan digenggamnya. Belaiannya begitu mantap menandakan ana juga begitu piawai dalam urusan yang satu ini.

"Tangan kamu pintar juga ya, An,"´ ujarku sambil memandang tangannya yang mengocok kon tolku. "Ya, mesti dong!" jawabnya sambil cekikikan. Jari-jariku masuk dari samping CD langsung menyentuh bukit no nok ana yang sudah basah. Telunjukku membelai-belai it ilnya sehingga ana keenakan. "Diisep lagi An. Kan sekarang lebih leluasa" kataku. ana tertawa sambil mencubit kon tolku. Aku meringis. ""Nggak muat di mulut ana, tadi dimobil kan cuma kepalanya yang masuk. Itu juga udah ampir gak muat. gede banget sih kon tolnya" selesai berkata demikian ana langsung tertawa kecil. "Kalau yang dibawah, gimana, muat gak?" tanyaku lagi sambil menusukkan jari tengahku ke dalam no noknya. ana merintih sambil memegang tanganku. Jariku sudah tenggelam ke dalam liang no noknya. Aku merasakan no noknya berdenyut menjepit jariku. Ugh, pasti nikmat sekali kalau kon tolku yang diurut, pikirku. Segera CD nya kulepaskan.

Perlahan tanganku menangkap toketnya dan meremasnya kuat. ana meringis. Diusapnya lembut kon tolku yang sudah keras banget. Tangannya begitu kreatif mengocok kon tolku sehingga aku merasa keenakan. Aku tidak hanya tinggal diam, tanganku membelai-belai toketnya yang montok. Kupermainkan pentilnya dengan jemariku, sementara tanganku yang satunya mulai meraba jembut lebat di sekitar no nok ana. kuraba permukaan no nok ana. Jari tengahku mempermainkan it ilnya yang sudah mengeras. kon tolku kini sudah siap tempur dalam genggaman tangan ana, sementara no nok ana juga sudah mulai mengeluarkan cairan kental yang kurasakan dari jemari tanganku yang mengobok-obok no noknya. Kupeluk tubuh ana sehingga kon tolku menyentuh pusarnya. Tanganku membelai punggung lalu turun meraba pantatnya yang montok. ana membalas pelukanku dengan melingkarkan tangannya di pundakku. Kedua telapak tanganku meraih pantat ana, kuremas dengan sedikit agak kasar lalu aku menaiki tubuhnya. Kaki ana dengan sendirinya mengangkang. Kuciumi lagi lehernya yang jenjang lalu turun melumat toketnya. Telapak tanganku terus membelai dan meremas setiap lekuk dan tonjolan pada tubuh ana.

Aku melebarkan kedua pahanya sambil mengarahkan kon tolku ke bibir no noknya. ana mengerang lirih. Matanya perlahan terpejam. Giginya menggigit bibir bawahnya untuk menahan laju birahinya yang semakin kuat. ana menatapku, matanya penuh nafsu seakan memohon kepadaku untuk memasuki no noknya. "Aku ingin mengen toti kamu, An" bisikku pelan, sementara kepala kon tolku masih menempel di belahan no nok ana. Kata ini ternyata membuat wajah ana memerah. ana menatapku sendu lalu mengangguk pelan sebelum memejamkan matanya. aku berkonsentrasi penuh dengan menuntun kon tolku yang perlahan menyusup ke dalam no nok ana. Terasa seret, memang, nikmat banget rasanya. Perlahan namun pasti kon tolku membelah no noknya yang ternyata begitu kencang menjepit kon tolku. no noknya begitu licin hingga agak memudahkan kon tolku untuk menyusup lebih ke dalam. ana memeluk erat tubuhku sambil membenamkan kuku-kukunya di punggungku hingga aku agak kesakitan. Namun aku tak peduli. "Maas, gede banget, ohh.." ana menjerit lirih. Tangannya turun menangkap kon tolku. "Pelan mas". Akhirnya kon tolku terbenam juga di dalam no nok ana. Aku berhenti sejenak untuk menikmati denyutan-denyutan yang timbul akibat kontraksi otot-otot dinding no nok ana. Denyutan itu begitu kuat sampai-sampai aku memejamkan mata untuk merasakan kenikmatan yang begitu sempurna. Kulumat bibir ana sambil perlahan-lahan menarik kon tolku untuk selanjutnya kubenamkan lagi. Aku menyuruh ana membuka kelopak matanya. ana menurut. Aku sangat senang melihat matanya yang semakin sayu menikmati kon tolku yang keluar masuk dari dalam no nokya. "Aku suka no nokmu, An.. no nokmu masih rapet" ujarku sambil merintih keenakan. Sungguh, no nok ana enak sekali. "Kamu enak kan, An?" tanyaku lalu dijawab ana dengan anggukan kecil. Aku menyuruh ana untuk menggoyangkan pinggulnya. ana langsung mengimbangi gerakanku yang naik turun dengan goyangan memutar pada pinggangnya. "Suka kon tolku, An?" tanyaku lagi. ana hanya tersenyum. kon tolku seperti diremas-remas ditambah jepitan no noknya. "Ohh.. hh.." aku menjerit panjang. Rasanya begitu nikmat. Aku mencoba mengangkat dadaku, membuat jarak dengan dadanya dengan bertumpu pada kedua tanganku. Dengan demikian aku semakin bebas dan leluasa untuk mengeluar-masukkan kon tolku ke dalam no nok ana. Kuperhatikan kon tolku yang keluar masuk dari dalam no noknya. Dengan posisi seperti ini aku merasa begitu jantan. ana semakin melebarkan kedua pahanya sementara tangannya melingkar erat di pinggangku. Gerakan naik turunku semakin cepat mengimbangi goyangan pinggul ana yang semakin tidak terkendali. "An.. enak banget, kamu pintar deh." ucapku keenakan. "ana juga, mas", jawabnya. ana merintih dan mengeluarkan erangan-erangan kenikmatan. Berulang kali mulutnya mengeluarkan kata, "aduh" yang diucapkan terputus-putus. Aku merasakan no nok ana semakin berdenyut sebagai pertanda ana akan mencapai puncak pendakiannya. Aku juga merasakan hal yang sama dengannya, namun aku mencoba bertahan dengan menarik nafas dalam-dalam lalu bernafas pelan-pelan untuk menurunkan daya rangsangan yang kualami. Aku tidak ingin segera menyudahi permainan ini hanya dengan satu posisi saja. Aku mempercepat goyanganku ketika kusadari ana hampir nyampe. Kuremas toketnya kuat seraya mulutku menghisap dan menggigit pentilnya. Kuhisap dalam-dalam. "Ohh.. hh.. mas.." jerit ana panjang. Aku membenamkan kon tolku kuat-kuat ke no noknya sampai mentok agar ana mendapatkan kenikmatan yang sempurna. Tubuhnya melengkung indah dan untuk beberapa saat lamanya tubuhnya kejang. Kepalaku ditarik kuat terbenam diantara toketnya. Pada saat tubuhnya menyentak-nyentak aku tak sanggup untuk bertahan lebih lama lagi. "An, aakuu.. keluaarr, Ohh..hh.." jeritku. ana yang masih merasakan orgasmenya mengunci pinggangku dengan kakinya yang melingkar di pinggangku. Saat itu juga aku memuntahkan peju hangat dari kon tolku. Kurasakan tubuhku bagai melayang. secara spontan ana juga menarik pantatku kuat ke tubuhnya. Mulutku yang berada di belahan dada ana kuhisap kuat hingga meninggalkan bekas merah pada kulitnya. Telapak tanganku mencengkram toket ana. Kuraup semuanya sampai-sampai ana kesakitan. Aku tak peduli lagi. Aku merasakan nikmat yang tiada duanya ditambah dengan goyangan pinggul ana pada saat aku mengalami orgasme. Tubuhku akhirnya lunglai tak berdaya di atas tubuh ana. kon tolku masih berada di dalam no nok ana. ana mengusap-usap permukaan punggungku. "ana puas sekali dien tot mas,” katanya. Aku kemudian mencabut kon tolku dari no noknya.

Aku masuk kembali ke rumah. ana langsung masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower . Aku bisa mendengarnya karena pintu kamar mandi tidak ditutup. Tak lama kemudian, shower terdengar berhenti dan ana keluar. Ganti aku yg masuk ke kamar mandi, aku hanya membersihkan tubuhku. Keluar dari kamar mandi, ana berbaring diranjang telanjang bulat. "An, kamu kok mau aku ajak ngen tot", kataku. "Kan ana dah lama gak ngerasain nikmatnya kon tol mas, kon tol mas besar lagi", jawab ana tersenyum. "Malem ini kita men lagi ya mas". Hebat banget ana, gak ada matinya. Pengennya dien tot terus. "Ok aja, tapi sekarang kita cari makan dulu ya, biar ada tenaga bertempur lagi nanti malem", kataku sambil berpakaian. ana pun mengenakan pakaiannya dan kita pergi mencari makan malem. Kembali ke rumah sudah hampir tengah malem, tadi kita selain makan santai2 di pub dulu.

Di kamar kita langsung melepas pakaian masing2 dan bergumul diranjang. Tangan ana bergerak menggenggam kon tolku. Aku melenguh seraya menyebut namanya. Aku meringis menahan remasan lembut tangannya pada kon tolku. ana mulai bergerak turun naik menyusuri kon tolku yang sudah teramat keras. Sekali-sekali ujung telunjuknya mengusap kepala kon tolku yang sudah licin oleh cairan yang meleleh dari lubang diujungnya. Kembali aku melenguh merasakan ngilu akibat usapannya. Kocokannya semakin cepat. Dengan lembut aku mulai meremas-remas toketnya. Tangan ana menggenggam kon tolku dengan erat. Pentilnya kupilin2. ana masukan kon tolku kedalam mulutnya dan mengulumnya. Aku terus menggerayang toketnya, dan mulai menciumi toketnya. Napsuku semakin berkobar. Jilatan dan kuluman ana pada kon tolku semakin mengganas sampai-sampai aku terengah-engah merasakan kelihaian permainan mulutnya. Aku membalikkan tubuhnya hingga berlawanan dengan posisi tubuhku. Kepalaku berada di bawahnya sementara kepalanya berada di bawahku. Kami sudah berada dalam posisi enam sembilan! Lidahku menyentuh no noknya dengan lembut. Tubuhnya langsung bereaksi dan tanpa sadar ana menjerit lirih. Tubuhnya meliuk-liuk mengikuti irama permainan lidahku di no noknya. Kedua pahanya mengempit kepalaku seolah ingin membenamkan wajahku ke dalam no noknya. kon tolku kemudian dikempit dengan toketnya dan digerakkan maju mundur, sebentar. Aku menciumi bibir no noknya, mencoba membukanya dengan lidahku. Tanganku mengelus paha bagian dalam. ana mendesis dan tanpa sadar membuka kedua kakinya yang tadinya merapat.

Aku menempatkan diri di antara kedua kakinya yang terbuka lebar. kon tol kutempelkan pada bibir no noknya. Kugesek-gesek, mulai dari atas sampai ke bawah. Naik turun. ana merasa ngilu bercampur geli dan nikmat. no noknya yang sudah banjir membuat gesekanku semakin lancar karena licin. ana terengah-engah merasakannya. Aku sengaja melakukan itu. Apalagi saat kepala kon tolku menggesek-gesek it ilnya yang juga sudah menegang. "Maas.?" panggilnya menghiba. "Apa An", jawabku sambil tersenyum melihatnya tersiksa. "Cepetan.." jawabnya. Aku sengaja mengulur-ulur dengan hanya menggesek-gesekan kon tol. Sementara ana benar-benar sudah tak tahan lagi mengekang birahinya. "ana sudah pengen dien tot mas", katanya. ana melenguh merasakan desakan kon tolku yang besar itu. ana menunggu cukup lama gerakan kon tolku memasuki dirinya. Serasa tak sampai-sampai. Maklum aja, selain besar, kon tolku juga panjang. ana sampai menahan nafas saat kon tolku terasa mentok di dalam, seluruh kon tolku amblas di dalam. Aku mulai menggerakkan pinggulnya pelan2. Satu, dua dan tiga enjotan mulai berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam no noknya membuat kon tolku keluar masuk dengan lancarnya. ana ngimbangi dengan gerakan pinggulnya. Meliuk perlahan. Naik turun mengikuti irama enjotanku. Gerakan kami semakin lama semakin meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakanku sudah tidak beraturan karena yang penting enjotanku mencapai bagian-bagian peka di no noknya. ana bagaikan berada di surga merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. kon tolku menjejali penuh seluruh no noknya, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan kon tolku sangat terasa di seluruh dinding no noknya. ana merintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini. ana mengakui keperkasaan dan kelihaianku di atas ranjang. Yang pasti ana merasakan kepuasan tak terhingga ngen tot denganku. Aku bergerak semakin cepat. kon tolku bertubi-tubi menusuk daerah-daerah sensitivenya. ana meregang tak kuasa menahan napsu, sementara aku dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulku naik turun, ke kiri dan ke kanan. Erangannya semakin keras. Melihat reaksinya, aku mempercepat gerakanku. kon tolku yang besar dan panjang itu keluar masuk dengan cepatnya. Tubuhnya sudah basah bermandikan keringat. Aku pun demikian. ana meraih tubuhku untuk didekap. Direngkuhnya seluruh tubuhku sehingga aku menindih tubuhnya dengan erat. ana membenamkan wajahnya di samping bahuku. Pinggul nya diangkat tinggi-tinggi sementara kedua tangannya menggapai pantatku dan menekannya kuat-kuat. ana meregang. Tubuhnya mengejang-ngejang. "maas..", hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya saking dahsyatnya kenikmatan yang dialaminya bersamaku. Aku menciumi wajah dan bibirnya.

ana mendorong tubuhku hingga terlentang. Dia langsung menindihku dan menciumi wajah, bibir dan sekujur tubuhku. Kembali diemutnya kon tolku yang masih tegak itu. Lidahnya menjilati, mulutnya mengemut. Tangannya mengocok-ngocok kon tolku. Belum sempat aku mengucapkan sesuatu, ana langsung berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan masing-masing berada di samping kiri dan kanan tubuhku. no noknya berada persis di atas kon tolku. "Akh!" pekiknya tertahan ketika kon tolku dibimbingnya memasuki no noknya. Tubuhnya turun perlahan-lahan, menelan seluruh kon tolku. Selanjutnya ana bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhnya melonjak-lonjak. Pinggulnya bergerak turun naik. "Ouugghh....An.., luar biasa!" jeritku merasakan hebatnya permainannya. Pinggulnya mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tanganku mencengkeram kedua toketnya, kuremas dan dipilin-pilin. Aku lalu bangkit setengah duduk. Wajah kubenamkan ke dadanya. Menciumi pentilnya. Kuhisap kuat-kuat sambil kuremas-remas. Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan panasnya udara meski kamar menggunakan AC. Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lengket satu sama lain. ana berkutat mengaduk-aduk dengan pinggulnya. Aku menggoyangkan pantatku. Tusukan kon tolku semakin cepat seiring dengan liukan pinggulnya yang tak kalah cepatnya. Permainan kami semakin meningkat dahsyat. Sprei ranjang sudah tak karuan bentuknya, selimut dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang bertambah liar dan tak terkendali. AKu merasa pejuku udah mau nyembur. Aku semakin bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang. Tak selang beberapa detik kemudian, ana pun merasakan desakan yang sama. ana terus memacu sambil menjerit-jerit histeris. Aku mulai mengejang, mengerang panjang. Tubuhnya menghentak-hentak liar. Akhirnya, pejuku nyemprot begitu kuat dan banyak membanjiri no noknya. ana pun rasanya tidak kuat lagi menahan desakan dalam dirinya. Sambil mendesakan pinggulnya kuat-kuat, ana berteriak panjang saat mencapai puncak kenikmatan berbarengan denganku. Tubuh kami bergulingan di atas ranjang sambil berpelukan erat. "maas., nikmaat!" jeritnya tak tertahankan. ana lemes, demikian pula aku. Tenaga terkuras habis dalam pergulatan yang ternyata memakan waktu lebih dari 1 jam! Akhirnya kami tertidur kelelahan. Liar sekali ana diranjang, baru sekali aku nemu abg seliar ana, tetapi dia telah memberikan kenikmatan yang luar biasa yang belum pernah aku dapatkan dari abg lainnya yang pernah kuen tot
itil foundation itil performance